Entrepreneurship

Dragon City

Post Page Advertisement [Top]

Kehidupan di masa depan penuh dengan ketidakpastian. Oleh sebab itu, penting untuk merencanakan masa depan terutama dari sisi finansial. Kehidupan akan terus berjalan meski telah menginjak usia tua, di mana dikategorikan sebagai usia tidak produktif karena tenaga sudah tidak kuat lagi bekerja. Bagaimana bisa memenuhi dan membiayai kebutuhan hidup di masa tua jika sudah tidak ada lagi sumber penghasilan?

Perencanaan keuangan atau finansial bertujuan untuk mempersiapkan kehidupan di masa mendatang yang lebih baik. Ada banyak cara yang bisa dilakukan, salah satunya adalah investasi. Namun, untuk melakukan investasi tidak boleh gegabah karena memiliki risiko yang cukup tinggi. Alih-alih memperoleh tingkat pengembalian atau keuntungan yang diinginkan, tetapi justru mengalami kerugian akibat tidak cermat dalam memilih instrumen investasi.

Definisi analisis kelayakan bisnis/investasi
Agar investasi bisa menghasilkan tingkat pengembalian yang diharapkan di masa mendatang, investor harus melakukan analisis kelayakan investasi terlebih dahulu. Analisis kelayakan investasi dapat dipahami sebagai tindakan yang dilakukan untuk mengetahui prospek dari suatu proyek investasi yang mendasari pengambilan keputusan diterima atau ditolaknya investasi tersebut. Sebelum mengambil keputusan investasi, penting untuk dilakukan analisis kelayakan agar dapat menghindari penanaman modal pada proyek atau kegiatan yang tidak menguntungkan.

Investasi memiliki ruang lingkup yang luas, di mana investasi dapat dilakukan pada pengadaan aset riil seperti bangunan atau gedung, kendaraan, peralatan kantor, dan tanah, tetapi juga surat-surat berharga seperti deposito, obligasi, dan saham. Dari beragam instrumen tersebut, investasi terbagi dalam tiga durasi waktu, yakni jangka pendek, menengah, dan panjang.

Metode analisis kelayakan investasi
Tujuan utama dari investasi adalah memperoleh keuntungan atau tingkat pengembalian yang tinggi. Artinya, tidak ada investor yang mau mengalami kerugian bahkan kehilangan dana atau modal yang telah ditanamkan pada instrumen tertentu. Nah, agar tak salah dalam mengambil keputusan investasi, wajib hukumnya bagi investor untuk melakukan analisis kelayakan investasi. Namun, bagaimana caranya?

Kelayakan investasi tidak bisa dinilai hanya berdasarkan dari asumsi atau keyakinan saja, tetapi harus dianalisis secara mendalam dari berbagai aspek. Tanpa pertimbangan yang matang, investasi ibarat membeli kucing dalam karung. Artinya, investor tidak mengetahui secara jelas penanaman modal yang dilakukannya tersebut menguntungkan atau tidak.

Untuk menilai kelayakan suatu investasi, setidaknya terdapat empat metode yang bisa dilakukan, yakni:
  1. Payback Period (PBP)
    Jika NPV mengukur investasi dari profitabilitasnya, metode Payback Period mengukur kecepatan pengembalian investasi. Oleh sebab itu, satuan ukuran yang dihasilkan bukan dalam bentuk persentase ataupun rupiah, melainkan waktu. Jika nilai PBP lebih cepat atau singkat dari yang disyaratkan, artinya investasi memiliki kelayakan. Sebaliknya, apabila nilai PBP lebih lambat atau lama berarti mengindikasikan tidak layaknya suatu investasi. Adapun formula untuk menghitung nilai PBP sebagai berikut.

    - Jika arus kas per tahun sama jumlahnya
      PBP = (investasi awal/arus kas) x 1 tahun

    - Jika arus kas per tahun berbeda jumlahnya
      PBP = n + (a – b/c – b) x 1 tahun

    Keterangan:
    n = tahun terakhir di mana jumlah arus kas belum bisa menutup investasi awal
    a = jumlah investasi awal
    b = jumlah kumulatif arus kas pada tahun ke-n
    c = jumlah kumulatif arus kas pada tahun ke-n+1

  2. Benefit Cost Ratio
    Secara teoritis, benefit Cost Ratio merupakan sebuah perbandingan antara semua nilai benefit terhadap semua nilai pengorbanan atau biaya. Secara matematis, dapat dituliskan melalui persamaan sebagai berikut :

    BCR = (Present Value dari Manfaat / Present Value dari Pengorbanan atau biaya)

    Nilai sekarang atau present value adalah berapa nilai uang saat ini untuk nilai tertentu di masa yang akan datang. Sebagai gambaran adalah jika anda ingin memiliki uang sebesar 100 juta tiga tahun mendatang dengan tingkat inflasi 7% per tahun, maka berapa uang yang harus anda persiapkan dari sekarang?

    Dengan menggunakan rumus present value, anda akan dapat menentukan berapa uang yang harus anda tabung untuk mendapatkan uang sebesar Rp.100 juta tiga tahun ke depan.

    Nilai present value ini dapat kita hitung menggunakan persamaan sebagai berikut :

    PV = Fn/ ( 1 + r ) n

    Dimana :

    Fn = Future value ( nilai pada akhir tahun ke n )
    PV = ( Nilai sekarang ( nilai pada tahun ke 0 )
    r = Suku bunga
    n = Jumlah Waktu ( tahun )

    Sedangkan pengambilan keputusan terhadap kelayakan dapat dilihat dari nilai BCR yang ditentukan sebagai berikut :
    - Jika BCR ≥ 1, maka dikatakan bahwa benefit dari proyek tersebut lebih besar daripada pengorbanan yang dikeluarkan. Sehingga proyek tersebut dapat diterima atau layak (feasible).
    - Sebaliknya jika BCR < 1 maka dikatakan bahwa benefit dari proyek tersebut lebih kecil daripada pengorbanannya atau proyek tersebut tidak layak (not feasible).

  3. Net Present Value (NPV)
    Kelayakan investasi dengan metode Net Present Value (NPV) dinilai dari keuntungan bersih yang diperoleh di akhir pengerjaan suatu proyek atau investasi. Keuntungan bersih tersebut dihitung dari selisih nilai sekarang investasi dengan aliran kas bersih yang diharapkan dari proyek atau investasi di masa yang akan datang atau pada periode tertentu. Penilaian kelayakan investasi dengan pendekatan NPV ini merupakan metode kuantitatif yang mampu menunjukkan layak tidaknya suatu proyek atau investasi. Perhitungan NPV dirumuskan sebagai berikut:

    NPV = (C1/1+r) + (C2/(1+r)2) + (C3/(1+r)3) + … + (Ct/(1+r)t) – C0

    Dimana :
    NPV = Net Present Value (dalam Rupiah)
    Ct = Arus Kas per Tahun pada Periode t
    C0 = Nilai Investasi awal pada tahun ke 0 (dalam Rupiah)
    r = Suku Bunga atau discount Rate (dalam %)

    Pengambilan keputusan investasi dalam metode ini menggunakan asumsi sebagai berikut:
    - Jika NPV < 0, maka investasi atau proyek dinilai tidak layak karena berisiko mengalami kerugian.
    - Jika NPV > 0, maka investasi atau proyek dinilai layak karena berpotensi menghasilkan keuntungan.
    - Jika NPV = 0, maka investasi atau proyek dinilai tidak layak karena tidak menghasilkan keuntungan.

    Contoh Perhitungan dengan NPV

  4. Internal Rate of Return (IRR)
    Metode Internal Rate of Return (IRR) mengukur kelayakan suatu investasi berdasarkan tingkat suku bunga yang dapat menjadikan jumlah nilai sekarang keuntungan yang diharapkan sama dengan jumlah nilai sekarang dari biaya modal (NPV = 0). Bagaimana bisa? Dalam metode ini, time value of money telah diperhitungkan sehingga arus kas yang diterima telah didiskontokan atas dasar biaya modal atau tingkat bunga yang diterapkan.

    Untuk menghitung nilai IRR harus dilakukan dengan cara trial and error atau menggunakan tabel tingkat bunga. Adapun formula perhitungan IRR sebagai berikut.

    IRR = R1 + (PV1 – PV0/PV1 – PV2) x (R1 – R2)

    Keterangan:

    IRR = Internal Rate of Return
    R1 = tingkat bunga pertama
    R2 = tingkat bunga kedua
    PV = Present Value

    Pengambilan keputusan investasi berdasarkan metode IRR menggunakan asumsi sebagai berikut:
    - Suatu investasi dikatakan layak, jika nilai IRR yang dihasilkan lebih besar dari tingkat bunga yang diterapkan.
    - Suatu investasi dikatakan tidak layak, jika nilai IRR yang dihasilkan lebih kecil dari tingkat bunga yang diterapkan.

Dengan menganalisis kelayakan investasi, investor dapat mengetahui secara jelas prospek dari proyek atau investasi tersebut, apakah menguntungkan atau tidak. Secara lebih lanjut, tindakan penanaman modal pada suatu proyek yang menguntungkan bisa memberikan tingkat pengembalian yang diharapkan di masa yang akan datang.

No comments:

Post a Comment

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib